Indonesia masih menempati posisi penting dalam perdagangan sarang walet Indonesia di pasar global. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, pada 2025 Indonesia menjadi pemasok sarang burung walet terbesar dunia berdasarkan nilai ekspor, mencapai USD 551,56 juta dengan pangsa 58,31. Malaysia berada di posisi kedua dengan nilai USD 215,35 juta atau 22,77%.
Angka tersebut menunjukkan kuatnya posisi sarang walet Indonesia dalam perdagangan internasional. Namun, posisi sebagai pemasok terbesar tidak berarti industri ini tanpa tantangan. Ketergantungan pada pasar tiongkok, tuntutan keamanan pangan, dan ketertelusuran produk menjadi sejumlah isu yang terus mendapat perhatian.
Indonesia dan Perdagangan Sarang Walet Dunia
Data Kementerian Pertanian yang mengolah data BPS mencatat nilai ekspor sarang walet Indonesia pada 2024 mencapai sekitar USD 551,56 juta. Tiongkok menjadi tujuan utama dengan nilai USD 428,79 juta atau 77,74% dari total ekspor. Hong Kong berada di posisi berikutnya dengan 11,30%, disusul Vietnam 3,99%, Singapura 3,23%, dan Amerika Serikat 2,67%.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa perdagangan sarang walet Indonesia masih sangat terkonsentrasi di pasar Asia, khususnya Tiongkok. Kondisi ini menjadi salah satu faktor penting dalam melihat prospek industri ke depan.
Mengapa Indonesia Bisa Unggul
Keunggulan sarang walet Indonesia tidak hanya ditentukan oleh produksi. Perdagangan internasional juga membutuhkan kemampuan kemampuan memenuhi ketentuan ekspor.
Kementerian Perdagangan menyebut Indonesia memiliki kekuatan dan kualitas dalam memasok kebutuhan sarang burung walet dunia. Pada 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai USD 551,56 juta, lebih dari dua kali ekspor Malaysia sebagai pemasok terbesar kedua.
Selain itu akses pasar Tiongkok yang telah berkembang selama bertahun-tahun menjadi faktor penting. Pada 2025, ekspor sarang walet Indonesia ke Tiongkok mencapai USD 380,20 juta, dengan tren pertumbuhan ekspor selama periode 2021-2025 sebesar 2,66%.
Tiongkok Masih Menjadi Pasar Utama
Besarnya ketergantungan pada Tiongkok terlihat dari data terbaru. Pada semester I 2026, ekspor sarang walet Indonesia ke Tiongkok mencapai USD 172,15 juta, berdasarkan data BPS yang dikutip ANTARA. Nilai tersebut turun sekitar 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi Tiongkok tetap menyerap sekitar 80% ekspor sarang walet Indonesia.
Pada periode yang sama, Indonesia juga mengekspor sarang walet ke Hong Kong sebesar USD 15,7 juta dan Singapura sebesar USD 10 juta. Pasar lainnya mencakup Amerika Serikat, Kanada dan Australia.
Data tersebut memperlihatkan dua sisi industri sarang walet Indonesia. Tiongkok memberikan pasar yang besar dan relatif penting, tetapi konsentrasi ekspor pada satu negara juga membuat industri menghadapi risiko ketika terjadi perubahan kebijakan atau persyaratan di negara tujuan.
Standar dan Ketertelusuran Makin Penting
Akses pasar tidak hanya ditentukan oleh permintaan. Produk sarang walet Indonesia yang diekspor juga harus memenuhi persyaratan keamanan dan karantina negara tujuan.
Pada April 2026, Badan Karantina Indonesia memfasilitasi audit GACC di salah satu perusahaan sarang burung walet di Pekanbaru. Pemeriksaan mencakup ketertelusuran bahan baku serta pengendalian potensi kandungan nitrit dan alumunium.
Dengan demikian, kualitas sarang walet Indonesia kini tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik produk. Dokumentasi, ketertelusuran bahan baku, proses pengolahan, dan pemenuhan standar keamanan pangan juga menjadi bagian dari rantai ekspor.
Tantangan Mempertahankan Posisi
Posisi Indonesia sebagai pemasok terbesar juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah akses ke pasar Tiongkok yang sangat menentukan kinerja ekspor.
Pada Agustus 2026, Badan Karantina Indonesia menyatakan sedang mengevaluasi unit usaha yang perlu didaftarkan kembali ke otoritas Tiongkok setelah adanya penghentian sementara atau suspensi terhadap sejumlah unit usaha sarang burung walet Indonesia.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan ekspor sarang walet Indonesia tidak hanya bergantung pada kapasitas produksi. Kepatuhan terhadap standar negara tujuan menjadi bagian penting untuk mempertahankan akses pasar.
Diversifikasi Menjadi Agenda Berikutnya
Ketergantungan terhadap Tiongkok juga mendorong pemerintah untuk mencari peluang pasar baru. Pada Juli 2026, Kementerian Perdagangan menggelar diskusi yang secara khusus membahas diversifikasi pasar dan produk sarang burung walet Indonesia.
Forum tersebut melibatkan pemerintah, akademisi, asosiasi, dan pelaku usaha dengan fokus pada peningkatan nilai tambah, perluasan pasar ekspor, serta penguatan daya saing industri.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sarang walet Indonesia ke depan tidak hanya diarahkan pada peningkatan volume ekspor, tetapi juga pada diversifikasi produk dan tujuan pasar.
Posisi Besar, Tantangan Juga Besar
Data perdagangan menunjukkan sarang walet Indonesia masih memiliki posisi yang kuat di pasar global. Pada 2025, Indonesia menjadi pemasok terbesar dunia berdasarkan nilai ekspor, sementara pada 2026 Tiongkok tetap menjadi tujuan utama meskipun nilai ekspornya mengalami penurunan pada semester pertama.
Namun, mempertahankan posisi tersebut membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan produksi. Standar keamanan pangan, ketertelusuran, kualitas, efisiensi pengolahan, dan diversifikasi pasar akan menjadi faktor penting bagi keberlanjutan industri.
Dengan demikian, keunggulan sarang walet Indonesia di pasar global masih terbuka lebar, tetapi mempertahankannya akan bergantung pada kemampuan pelaku industri dan pemerintah dalam menjawab tuntutan pasar internasional yang terus berkembang.
